HIDA ALDRIC.

THE STORY / CO-FOUNDER / UNDERDOGS

HIDA ALDRIC.

Cerita di balik co-founder Underdogs.

Hida pernah mencuci sepatu dan menjual puding. Perjalanannya membawanya ke pendidikan hukum, bisnis teknologi, crypto, dan Underdogs.

Baca perjalanannya
HUKUM · BISNIS · TEKNOLOGI · CRYPTO

01 / Mencari arah

Pindah dari kedokteran ke hukum.

Muhammad Hidayatullah, yang dikenal sebagai Hida Aldric, lahir pada 20 Agustus 1999. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Ibunya dokter dan ayahnya karyawan swasta.

Hida belajar soal tanggung jawab dari kedua orang tuanya. Namun saat itu, ia belum tahu ingin menekuni bidang apa.

Hida sempat kuliah kedokteran. Setelah dijalani, ia merasa minatnya ada di bidang lain dan memutuskan pindah ke hukum.

Di hukum, Hida belajar soal aturan, cara menyusun argumen, dan akibat sebuah keputusan. Ia menyelesaikan Sarjana Hukum, lalu Magister Hukum dengan predikat cum laude dan IPK 3,79. Sekarang ia melanjutkan pendidikan doktoral Ilmu Hukum.

02 / Pekerjaan pertama

Dari cuci sepatu sampai jualan puding.

Sebelum membangun bisnis dan mengenal investasi, Hida pernah mencari uang dengan mencuci sepatu, menjual puding dan pakaian, serta bekerja di tim wedding organizer.

Dari pekerjaan itu, Hida belajar menawarkan produk dan melayani pelanggan. Ada penolakan, dan penghasilannya belum selalu sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan.

Kalau belum berhasil, Hida mencoba melihat apa yang bisa diperbaiki sebelum mencoba lagi.

03 / Bisnis & teknologi

Membangun bisnis di bidang teknologi.

Hida tertarik pada startup, software, blockchain, dan Web3. Ia ingin belajar membuat produk yang dipakai orang dan menjalankan bisnisnya.

Hida terlibat dalam Softease, sebuah software house; Miisi, aplikasi agregator logistik; dan Eprops, proyek NFT yang berkaitan dengan properti.

Ilmu hukum membantunya memahami aturan dan konsekuensi keputusan bisnis. Saat membangun produk, ia belajar memahami kebutuhan pengguna dan menyelesaikan masalah yang muncul.

04 / Belajar dari market

Belajar trading dan investasi.

Awalnya Hida penasaran dengan crypto. Dari sana, ia mendalami investasi dan trading sampai menjadi bagian dari pekerjaannya.

Hida mempelajari Bitcoin, blockchain, tokenomics, analisis teknikal, psikologi market, dan narasi crypto. Pada 2024, ia meraih sertifikasi Certified Technical Analyst (CTA) dan lulus dalam satu kali percobaan.

Ia pernah untung, rugi, dan melihat nilai portofolionya turun. Ia belajar mengecek kembali keputusan, termasuk kesalahan yang perlu diperbaiki.

Buat Hida, trading perlu dijalani dengan serius. Ada sistem, data, dan risiko yang harus diatur, meski hasilnya tetap tidak bisa dipastikan.

05 / Memimpin & membangun

Pengalaman memimpin proyek.

Hida terlibat dalam beberapa proyek crypto dan Web3, salah satunya saat menjabat sebagai CEO Mashida Token / Mashida.io.

Mashida berkembang hingga memiliki lebih dari 10.000 pemegang token. Di sana, Hida belajar menghadapi tekanan, mengambil keputusan sulit, dan bertanggung jawab kepada orang-orang yang terlibat.

Pada November 2024, Hida mengundurkan diri dari posisi CEO Mashida. Pengalaman tersebut tetap menjadi pelajaran dalam bisnis, teknologi, dan komunitas.

Hida juga membuat konten dengan nama Hida Aldric dan terlibat dalam Hodlmagz, media tentang crypto. Ia membahas uang, bisnis, trading, pola pikir, serta kesalahan dan pelajaran dalam membangun usaha.

06 / Underdogs

Membangun Underdogs bareng Filbert.

Hida melihat banyak orang masuk crypto karena takut ketinggalan atau mengikuti sinyal tanpa memahami alasannya. Ia ingin anggota Underdogs memahami sesuatu sebelum mengambil keputusan.

Hida membangun Underdogs bersama Filbert Patrick. Namanya dekat dengan pengalaman mereka: pernah tidak diunggulkan, tetapi tetap mau belajar dan membuktikan diri.

Ia ingin anggota terbiasa membaca riset, menyusun portofolio dengan rencana, dan mengatur risiko. Underdogs dibangun sebagai tempat trader ritel, investor, dan pemilik bisnis bertemu, bertukar ide, dan bertanya ketika belum paham.

“You don't have to start ahead. You just have to keep going.”

07 / Untuk ibu

Pencapaian yang paling berarti.

Salah satu pencapaian yang paling berarti buat Hida adalah memberangkatkan ibunya ke Tanah Suci.

Dari hasil usahanya, Hida bisa memberangkatkan ibunya umrah, lalu haji. Buatnya, ini salah satu hal yang membuat kerja keras terasa berarti.

Dulu ia mencari uang dari cuci sepatu, jualan, dan bekerja di tim wedding organizer. Sekarang, ia bersyukur hasil usahanya juga bisa dirasakan oleh ibunya yang selama ini banyak mendukungnya.

Membahagiakan keluarga tetap menjadi salah satu alasan Hida terus bekerja.

08 / Perjalanan berikutnya

Masih belajar. Masih terus membangun.

Hida masih menjalani pendidikan doktoral hukum. Ia juga beraktivitas sebagai analis teknikal bersertifikasi, pengusaha, trader, investor, pembuat konten, dan pengembang ide di teknologi serta Web3.

Dari kegiatan itu, ia mendapat pengetahuan, kenalan, dan pengalaman baru. Kesalahan yang pernah dibuat menjadi bahan belajar sebelum mengambil keputusan berikutnya.

Hida masih ingin membangun bisnis, mengembangkan teknologi, dan membesarkan Underdogs. Ia ingin terus belajar sambil mengajak orang lain belajar bersama.

“Posisi awal tidak menentukan posisi akhir.”

HIDA ALDRIC.

Posisi awal tidak menentukan posisi akhir. Masih belajar dan terus membangun.

“There are decades where nothing happens; and there are weeks where decades happen.”— Vladimir Lenin